Pembajak Film Keluarga Cemara Kembali Disidang di PN Jambi,  Angga CEO Visinema Pictures Langsung Bersaksi

0
92

 

Jambi – Sidang lanjutan pembajakan IP Film karya Visinema yang di laporkan beberapa waktu lalu memicu pihak visinema terus menggulir kasus ini keranah hukum, Bertempat di Pengadilan Negeri Jambi, Kamis (04/02/21).

Angga Dwimas Sasongko, Chief Executive Official (CEO) Visinema Pictures dan juga sebagai pemilik film “Keluarga Cemara” hadir secara langsung sebagai saksi yang akan memberikan keterangan kepada pengadilan yang dilakukan oleh tersangka bukan cuman merupakan kerugian buat visinema dan dirinya sebagai pemilik film.

“Banyak sekali kerugian yang di dapat oleh negara dan di dalam distribusi digital pendapatan saya sebagai pemilik ID atau pemilik Film pasti ada pajak lisensi sekitar 100 juta sampai 150 juta pajak yang harus saya bayarkan ke pemerintah itu hilang dari pendapatan negara,” jelasnya.

“Apabila tersangka sudah membajak sekitar 1000 film, tinggal kalikan saja 1000, berapa jumlah kerugian yang kita dapat, karena kita gagal mendapatkan Bill dengan platform yang legal,” sambungnya.

Diketahui dalam pembajakan film tersebut baru satu tersangka yang di dapat dan satu tersangka masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Proses pelaporan telah memakan waktu yang panjang sekitar 4 bulan lebih.

Angga berharap apa yang Visinema dan dirinya lakukan membawa pelaku kemeja pengadilan merupakan langkah baru untuk pemberantasan atau gerakan bersama melawan pembajakan film.

Dari pajak lisensi persatu tahun pemerintah bisa mendapatkan 100 miliar yang bisa di gunakan untuk buat rumah sakit, buat sekolah, bisa bikin jalan, bisa bikin pengairan.

“Gara-gara orang seperti ini negara kehilangan pendapatan film maker dan juga kehilangan pendapatan. Pelaku pembajakan film ini mendapat pendapatan dari iklan, seperti iklan judi dan iklan pornografi,” ujarnya.

Angga juga menyarankan kepada pemerintah agar mempunyai political will yang bagaimana link tersebut jangan menjadi link aduan. “Karena kalau jadi link aduan namun jadikan link biasa saja dan perlu perubahan di undang-undang,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa kedua pelaku pembajakan ini mempunyai platform LK21 dan duniafilm21. “Intinya yang bernomor 21 itu merupakan milik pelaku dan sindikat yang lainnya,” tambahnya. (sip)

LEAVE A REPLY